Just one more sleep before going to Alor Island, very excited to explore one of the remote places in Indonesia, it will be a thrilling 5 days of adventure, photo taking and all good activities.
So basically we have to take 3,5 hours flight from Jakarta to Kupang, and then waiting for 4 hours connecting flight to Alor
Will have the story about this beautiful Island shortly after the trip.
Hari ketiga saya berada di pulau Lembata perjalanan dilanjutkan menuju Dusun Okang Paga Desa Todanara....
Sepanjang Perjalanan kami melewati beberapa tempat yang menarik seperti teluk Waienga, dimana ikan paus sering terdampar disana karena kondisi seabed yang mempunyai banyak karang dan palung, sehingga membuat sonar ikan paus menjadi sedikit terganggu dan akhirnya mereka terdampar. Tahun lalu ada 5 ekor paus biru (Blue Whale) yang terdampar disana, dan 4 berhasil dikembalikan ke laut, sedangkan 1 mati karena terlambat dikembalikan.
Teluk Waienga, perhatikan area putih dimana ikan paus sering terjebak disana
Selain itu juga, kami melewati sebuah desa yaitu Desa Kimakamak, desa lokal penghasil kerang mutiara, ada kearifan lokal di desa itu dimana ada kawasan tertutup yang hanya boleh dipancing pada bulan November saja. Selain bulan November, tempat ini dilarang untuk dipancing dan diganggu, karena memang tempat ini menjadi tempat bertelurnya ikan-ikan dan secara tidak langsung menjadi tempat konservasi ikan disana.
Hejeri alami tempat bertelurnya ikan sekarang dimanfaatkan oleh Australia untuk berternak kerang mutiara disana..... (Koq bukan Indonesia saja ya??)
Akhirnya perjalanan kami sampai pada tujuan utama, yaitu desa Okang Paga, kami disambut oleh para pejabat desa setempat dan juga dengan tari-tarian lokal.
Seorang anak di Desa Okang Paga
Setelah acara tarian penyambutan, dilanjutkan dengan dilakukannya ritual adat desa Okang Paga dalam menyambut tamu desa. Tari ini sedikit digabungkan dengan tari perang adat desa Okang Paga.
Setelah tarian penyambutan, maka dilanjutkan dengan ritual kepada leluhur untuk memohon ijin
Acara dilanjutkan dengan melihat cara mereka menenun mulai dari memetik kapas sampai menjadi tenunan, sungguh suatu proses yang sangat memakan waktu, proses pewarnaan bisa mencapai 10-20 tahun jika menginginkan warna2 yang khas dan bisa baru diselesaikan oleh 2 generasi. Harga kain tenun pun bertingkat-tingkat tergantung dari kastanya. di Ile ape tenun dibagi kategori sebagai berikut:
Tenun Bangsawan kisaran harga 20-50 juta
Tenun Ohin yang banyak menggunakan warna merah dan seluruh pewarnaan menggunakan akar mengkudu kisaran harga 15-20 juta
Tenun Hebaken dengan motif atas dan bawah hitam kisaran harga 2-5 juta
Tenun Topom dengan motif pelangi atau garis-garis kisaran harga 200rb - 600rb
Dengan lamanya proses pembuatan tenun ini, maka tidaklah heran jika harga tenun dipatok cukup tinggi, sebagai ilustrasi jika seorang warga membuat tenun Ohin dan memakan waktu selama 10 tahun proses pewarnaan, maka jika harga akhir tenun tersebut Rp. 20juta, berarti sang penenun hanya dibayar Rp. 2 juta per tahun.
Mama Alena, ketua sanggar tenun Okang paga sedang merapihkan pola yang tidak lurus
Tenun ikat yang memakan waktu 10 tahun untuk pewarnaan
Bapa Iljas Lesu sedang menerangkan perihal tenun
Same smile :)
proses memenun, bisa memakan waktu sebulan
proses mengikat pola
Selanjutnya kami makan siang bersama dengan penduduk lokal, beberapa hidangan khas tersaji dimeja seperti acar ikan mentah, ikan bakar, kacang bakar dan jagung titi, tidak ketinggalan tuak lontar yang selalu ada di setiap kesempatan.
my lunch.. jagung titi, acar ikan mentah dan ikan bakar
jagung titi
Bapa Iljas sedang meminum tuak Lontar
saat makan ada insiden kecil dimana salah seorang rekan secara tidak sengaja menginjak salah satu anjing yang sedang berada di bawah meja dan anjing itu langsung menggigit, di bawah kepanikan dan kelucuan, kami tetap melanjutkan acara dengan ceria.
foto tersangka :)
Acara kami di Dusun Okang Paga ditutup oleh tarian bersama dengan warga setempat.... cukup menarik dan menyenangkan
setelah semua acara selesai dan dibarengi dengan keliling desa untuk melihat aktivitas warga sehari hari, kami melanjutkan perjalanan menuju teluk Waienga untuk menikmati indahnya matahari terbenam dibalik gunung Ape (Ile Ape) sambil melihat pulau kelelawar
perjalanan pulang ke daratan
matahari terbenam di balik Gunung Ape
indahnya Indonesiaku
Perahu cadangan juga bocor
Begitu indah dan damainya Indonesia Timur, dan tempat yang indah ini wajib kita pelihara bersama agar dikemudian hari bisa kita wariskan kepada anak cucu kita semua.
Foto-foto diambil dengan menggunakan HP Sony Z3, kamera Fuji XT1 dan kamera Leica Monochrom
Semua foto dan video di blog dilindungi oleh undang-undang hak cipta.
gunakan dengan ijin penulis.
Foto-foto lainnya:
Biji Damar, biji ini akan ditumbuk dan digulung dengan kapas untuk menjadi alat penerangan warga
pembuat garam
menutup hari dengan mengunjungi rumah sakit terdekat untuk memeriksakan luka gigitan
Kecamatan Lamalera yang terletak di pulau Lembata, propinsi Nusa Tenggara Timur mempunyai keunikan tersendiri didalam menjalani kehidupan mereka.
Dengan kondisi alam yang keras, dan tanah yang kurang subur, mereka menghidupi hari-hari mereka dengan memancing/menombak ikan atau menjadi nelayan.
Menurut keterangan beberapa penduduk lokal, tanaman yang bisa tumbuh di Lamalera dalah tanaman sejenis kelor, oleh karena itu mereka sangat bergantung pada hasil laut.
Menurut hukum internasional, Lamalera merupakan satu-satunya tempat yang diperbolehkan untuk berburu paus di dunia, musim perburuan paus ada pada bulan Mei - Oktober dan rata-rata selama musim perburuan tersebut mereka mendapatkan paus sebanyak 20-30 ekor pertahunnya,
Jumlah itu cukup untuk menghidupi mereka, karena dari bulan Oktober sampai Mei, mereka tidak terlalu sering melaut akibat cuaca yang jelek,
Adapun jenis paus yang diambil oleh para nelayan Lamalera adalah Sperm Whale (koteklema) dan Killer Whale (seguni), walaupun seguni paing banyak hanya setahun sekali lewat di perairan Lamalera. Para nelayan tidak akan memburu Blue Whale karena ada keterikatan batin dengan leluhur mereka yang pada saat migrasi ke pulau Lembata mereka ditolong oleh Blue Whale.
Disaat berburu mereka menggunakan perahu tradisional yang menggunakan dayung..... dan berdiri di depan perahu adalah seorang lamafa atau penombak yang memegang tempuling atau tombak Seorang lamafa juga bisa diibaratkan seorang pemimpin saat perburuan. Sebab, saat melihat baleo (ikan paus), sang lamafa akan memimpin doa sebelum peledang turun melakukan perburuan. Lamafa bersama matros (tukang dayung), breung alep (asisten lamafa), dan lamauri juga tidak boleh memiliki masalah saat di darat. Masalah itu harus diselesaikan agar perburuan berjalan lancar.
Anak-anak berebut memakan mata ikan terbang saat perahu mendarat
gotong royong adalah ciri utama di Lamalera
Nikmatnya mata ikan untuk disantap
Saya tidak akan berbicara banyak tentang paus karena masih menimbulkan kontroversi, akan tetapi perlu dipahami bahwa ikan adalah sumber kehidupan utama mereka, dan mereka hanya mengambil yang mereka perlukan untuk makan.
Selain paus, mereka juga memancing ikan pari dan lumba-lumba, ikan hiu serta sejenis ikan terbang.
Setiap hasil tangkapan akan dibagi rata berdasarkan ketentuan yang sudah ada di kampung dari ratusan tahun yang lalu.
Melihat kehidupan masyarakat disini, yang letaknya harus ditempuh kurang lebih 4 jam perjalanan dari kota kabupaten, saya sangat terkesan dengan cara mereka bertahan hidup.
Perahu khas untuk berburu paus
Daging lumba-lumba sedang dijemur
Garasi Kapal-kapal penangkap ikan di Lamakera
Gerbang menuju pemukiman penduduk di Lamalera
Nelayan pulang ke pantai sore hari setelah menangkap ikan
I always have a soft spot for taking BW pictures. Well afterall photography started with black and white. And after considering back and forth, last year I've managed to switch my M9 to M Monochrom, a big upgrade and also a big complaints from my wife as I've spent the whole amount of money to buy a "color-less" camera :)
So I've taken this beauty to Istanbul and try to get a couple of good shots out of it.
Please enjoy, and remember all the images were copyrighted.
Traveling will always be my passion, and I've got a chance to visit Istanbul last October 2014.
For a couple of days, me and my friends scour around the city to get some nice shots around.
From Wikipedia, the history of Istanbul describes as:
The History of Istanbul explains the historical development of the modern city of Istanbul. Its name from 330 AD to 1930 was Constantinople.
The settlement was established as a Greek colony, called Byzantion, in the 7th century BC. It fell to the Roman Republic in AD 196, and was known as Byzantium until 330, when it was renamed Constantinople and made the new capital of the Roman Empire. During late antiquity, the city rose to be the largest of the western hemisphere, with a population peaking at close to half a million people. Constantinople was the capital of the Eastern Roman Empire, known as the Byzantine Empire. That ended with the Muslim conquest in 1453. Constantinople then became the capital of the Ottoman Empire.
Here are some pictures when I travel there, I will post 2 parts to separate between color and BW pictures. Please keep in mind that these pictures were copyrighted, any use of these picrues needs a special permission from me